online roulette_Crown Betting Network_American Casino

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Permainan baccarat

SaAG Baccaratmbal AG BaccarattAG Baccaraterasi-tempe-tahu-iAG BaccaratAG Baccaratkan asin. Ah, apapun itu terima kasih Tuhan Yesus!

(tanya teman dari Samarinda)

Teman dari Papua: “Enggak lah, mahal tiketnya!”

Kamu: “Tulaaang, jangan bikin aku iri lah Tulang.”

Untuk mengobati rasa rindumu pada rumah, biasanya ibu dengan baik hati akan mengirim setoples kue Natal untuk kamu makan bersama teman-teman, sebagai ganti ketidakhadiranmu bersamanya di malam Natal.

Sudah bosan dengan main kembang api, kini kalian akan menghabiskan malam dengan bercerita tradisi Natal yang biasanya dijalani. Mungkin kamu akan bercerita bagaimana dengan polosnya kamu mempercayai bahwa Santa Claus akan datang jika kamu menaruh rumput kering di sepatu untuk makanan rusanya. Teman-teman yang tidak merayakan Natal bisa jadi dengan antusias mendengar keseruan ceritamu.

Pada akhirnya kamu akan menyadari seseru apapun perayaan Natal dengan keluarga baru tersebut tetap tidak akan menggantikan serunya menghabiskan Natal bersama orang-orang tersayangmu.

Tak ada saksang, roti kering pun jadi. Yang penting masih bisa makan kue natal yang Ibu buat sendiri!

*yeah, lumayaaannn….paling tidak kamu tidak sendirian*

Kamu: “Hmmmm iya deh Ma, iya…”

*celingak-celinguk lihat jemaat di sekeliling*

Teman: *langsung sewot* “Gak usah tanya lah, aku nggak pulang! Mahal betul tiketnya!”

Tidak hanya berhenti dengan membeli berbagai bahan makanan untuk dimasak, kamu juga akan melengkapi pernak-pernik perayaan Natal dengan membeli sebungkus kembang api untuk dinyalakan bersama teman-temanmu.

Mungkin ayah dan ibumu tidak punya lelucon sekonyol sahabat karib, mungkin juga lucunya perilaku keponakan atau sepupumu sebanding dengan absurd-nya kelakukan teman-teman kos mu, namun satu yang tidak akan tergantikan ketulusan keluargamu akan tetap kamu rindukan.

Jauh dari orang tua, uang gaji dan kiriman terbatas — membuatmu berpikir ratusan kali sebelum belanja baju Natal. Walau ada kiriman dari saudara atau keluarga di rumah uangnya kadang lebih baik disimpan untuk kebutuhan hidup lain yang lebih penting.

(tanya ke Teman dari Medan)

*kamu lirik teman di kanan-kiri yang sesama perantau*

Tulang: “Woy Pris, Tulang Nando ini. Apa kabar kau Pris?”

“Ibu di rumah lagi masak apa ya? Saksang udah selesai dimasak belum ya? Ayam Napidana apa kabarnya? Pasti dihabisin si Abang deh tahun ini gara-gara aku nggak pulang!”

Oh what fun

Apakah kamu termasuk anak rantau yang tidak bisa pulang ke rumah di hari Natal ini? Hipwee memahami perasaan dan kerinduanmu. Artikel ini Hipwee harap bisa mewakili perasaanmu

Kenyataan bahwa kamu tinggal berjauhan dengan semua kenyamananmu membuat akhirnya kamu mau turun tangan sendiri menyambut datangnya malam Natal yang spesial. Pada siang hari mungkin kamu akan berbelanja bersama teman ke pasar atau supermarket untuk membeli bahan makanan guna dimasak bersama.

Mama: “Kamu pulang juga setahun sekali Bang, ayo lah temani Mama….”

Seperti momen Idul Fitri yang bertebaran makanan enak, waktu Natal juga tidak bisa dipisahkan dari beragam hidangan. Kadang saat sedang sendirian menjelang Natal kamu berpikir,

Di awal kamu merasa bahwa kamu merindukan Natal karena kamu ingin melihat pohon Natal yang selalu terpajang di rumah, memakan masakan khas ibumu, atau mungkin berbelanja pernak-pernik Natal. Tetapi ternyata ada rasa yang lebih besar dari itu semua yang membuat dirimu sebagai anak rantau senantiasa menanti Natal, ya keinginan untuk pulang dan bercengkrama dengan mereka yang kamu cintai.

Tulang: “Iya, ah kau tak pulang ya tahun ini? Rugi lah. Mamakmu masak Saksang tabo nian*.” (*enak sekali)

Kamu: “Natal pulang?”

Teman dari Medan: “Mana lah ada uang aku. Di sini saja lah aku.”

jingle all the way!

(tanya ke teman dari Papua)

Kamu: “Natal nggak pulang ‘kan?”

*padahal dalam hati nangis ingat betapa enaknya makanan di rumah*

Kalau udah dengar cerita kehangatan rumah macam ini rasanya ingin pinjam pintu Doraemon supaya kamu bisa sampai ke rumah dalam sekejap mati. Aih, rindunyaaaa….

OOOOH SAKSANGKU~ TAHUN DEPAN BARU KITA BISA BERTEMU~

Kamu: “Ah Ma, gak capek kah suruh-suruh aku terus? Ini baru aja selesai bantu bikin adonan kue.”

HEHE. HEHE. Senasib kita guys :”)

it is to ride

Oh jingle bells jingle bells

Kamu: “Oh maaf Bu gak bisa tahun ini cutiku ‘kan sudah habis.”

(kebiasaan Natal setiap tahun di rumahmu)

(2 minggu sebelum natal)

Kamu: “Baik Tulang. Wah, lagi rame ya di sana?”

Kamu rindu suara Mamamu mengabsen nama sepupu dan keponakan untuk membagi kado. Kamu rindu pada kehebohan kalian membuka kado secara bersamaan. Bersorak ketika kado sesuai harapan, atau merengut saat kado yang diberikan jauh sekali dari keinginan.

Ibu: “Mbak tahun ini pulang ke rumah ‘kan, Natalan sama bapak dan ibu?”

Momen Natal jadi momen kumpul bersama bagi anggota keluarga yang biasanya terpisah di berbagai kota. Di malam Natal, sepulang ibadah dari gereja kalian biasa kumpul bersama di salah satu rumah saudara. Makan-makan, buka kado, begadang main petasan dan kembang api, sampai bergosip sampai pagi datang dan harus ke gereja lagi.

Christmas is about love, family, and children.

*semua kok sama keluarganya ya?*

Ibu: “Kak, natal pulang tanggal berapa? Mau Ibu beliin tiket?”

Sebagai penutup yang manis, quote dari Bill ini rasanya cukup mewakili apa yang sesungguhnya dirindukan oleh para anak rantau saat Natal tiba:

Kamu: *bersungut-sungut* *tapi akhirnya berangkat juga*

Dulu ketika belum berstatus sebagai anak rantau, mungkin libur Natal akan terasa begitu menyenangkan karena pada momen itulah seluruh anggota keluarga akan berkumpul dan saling melepas rindu. Tapi seiring dengan berjalannya waktu dan kamu memutuskan untuk berjuang demi masa depan, maka untuk sementara ritual bertemu dengan orang-orang terkasih hanya akan berakhir pada suara di ujung telepon. Ya perjuangan memang terkadang membutuhkan pengorbanan. Suka atau tidak suka kamu pun terpaksa merelakan waktu emasmu bersama mereka.

Bikin lamb grilled, potato salad, ayam krispi, lasagna, sampai sashimi seafood

Natal yang sempurna di rumah adalah hasil kerja keras Ibundamu

Kamu: “Ah, Mak pagi betul. Jam 8 aja lah Mak, masih ngantuk itu aku…”

Kamu akhirnya tahu betapa ribetnya ternyata menyiapkan menu natal, realita harga makanan di akhir tahun yang meroket akan membuatmu mensyukuri betapa orangtuamu menyiapkan segalanya dengan tidak mudah.

Mamak: “Dek, besok ibadah di HKBP ya jam 6 pagi.”

atau bagi kamu yang masih mahasiswa

Natal selalu mengingatkan kita pada lagu Jinggle Bells, pohon natal, kue kering dan makanan enak, serta kehangatan berkumpul bersama keluarga. Tapi sayang, tidak semua orang punya kesempatan untuk merasakan nyamannya kembali ke rumah pada hari besar Umat Kristiani ini.

It doesn’t matter what we eat or what presents we get as long as holidays are spent with loved ones – Bill

Ibu: “Mmm, gitu ya…ya udah. Tetap bertemu dalam doa ya kita?”

In a one horse open sleigh, Hey!

(kamu menelepon ke rumah di malam Natal, momen kumpul keluarga yang riuh rendah)

Beli baju? Nanti dulu deh. Mending buat isi pulsa modem dulu!

Pada kondisi inilah kamu merasa punya teman senasib sepenanggungan yang akan bisa kamu ajak sebagi teman berbagi rasa sedih tatkala kamu harus merayakan Natal terpisah dari keluargamu sementara waktu. Teman-temanmu ini pasti dengan senang hati akan menemani kamu sepanjang malam untuk membunuh rasa galau kalian masing-masing.

Mamak: “Kalau ketemu Tuhan aja malas, gimana Tuhan mau banyak kasih berkat? Sudah! Jam 6 besok kita ibadah!”

Kamu: “Halo, ini siapa ya?”

Namun sayang, jauhnya jarak dan mungkin mahalnya harga tiket (karena momen akhir tahun) membuatmu harus menahan dulu keinginan untuk menyantap masakan spesial dari tangan ibu.

Mama: “Ayo Bang, temani Mama ke penjahit ambil baju Natal buat kita sekeluarga.”

Kamu:  “Gak usah Bu, aku masih harus ngejar ACC dosen ini. Pengen pendadaran tahun ini.” (padahal dalam hati pengen pulang)