Lottery betting platform_Authentic Baccarat Game_Betting platform website

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Permainan baccarat

PerkU.S. legal oU.S. legal online casinosnline casinosara duit U.S. legal online casinosmemaU.S. legal online casinosng sensitif. Karena bagaimanapun, cari uang itu sulit dan setiap orang punya kebutuhan sendiri-sendiri. Yang jelas, kamu tidak harus merasa tidak enak ataupun memaksakan diri bila pacarmu ingin meminjam uang. Tidak perlu takut dianggap pelit dan perhitungan. Bila memang tidak bisa membantu, katakan saja sejujurnya dan berikan dia support lain yang bisa kamu lakukan.

Untuk mengurangi kemungkinan rasa curiga dan kesalahpahaman, harus jelas dulu untuk apa dia membutuhkan uang itu. Kamu juga harus tahu semendesak apa kebutuhan itu. Dengan begitu, kamu bisa mempertimbangkan untuk memberinya bantuan atau tidak. Kalau dia pinjam uang untuk beli tas branded seharga jutaan yang katanya “mumpung lagi diskon”, ya tidak penting juga ‘kan?

Kamu sudah tahu kan betapa sulitnya menagih utang kepada teman? Kamu akan bertarung melawan rasa tidak enak dalam dirimu karena bagaimanapun dia temanmu. Lalu kamu juga mungkin akan bertarung dengan temanmu sendiri karena dia bilang “Temen gitu amat sih perhitungannya?”. Ini akan terjadi berkali-kali lipat lebih berat saat lawanmu adalah kekasihmu sendiri. Mau nagih nggak enak, tapi nggak ditagih kamu lagi butuh juga.

support dengan cara lain (Photo by Priscilla Du Preez) via unsplash.com

finansialnya bukan tanggung jawabmu (Photo by EVG photos) via www.pexels.com

Meminjamkan uang pada pacar memang harus dipertimbangkan baik-baik, bila ingin menghindari konflik di kemudian hari. Tapi tidak bisa meminjami saat dia membutuhkan juga membuat hatimu sedih juga. Kan kamu juga ingin memberinya support. Tapi, sebenarnya meminjamkan uang bukan satu-satunya cara membantu kok.

Jadi, harus bersikap bagaimana saat pacar ingin meminjam uang? Haruskah langsung menolak permintaan pacar, atau haruskah meminjamkan sebagai bentuk support padanya? Pada akhirnya, keputusan akan ada di tanganmu, dan terserah apa pun alasanmu. Namun, sebelum memutuskan, ada beberapa hal ini yang patut kamu pertimbangkan dulu.

untuk apa uangnya? (Photo by Immortal shots – See latest) via www.pexels.com

Terlepas dari anomali yang sering terjadi “yang pinjam duit lebih galak dari yang minjemin duit waktu ditagih” secara umum, yang meminjamkan uang punya power lebih besar. Selain bahagia bisa membantu, mungkin kamu akan merasa hebat karena bisa membantunya. Di sini, perasaan jemawa itu rawan terjadi karena kamu jadi menganggapnya lemah dan bisa berbuat apa saja. Karena kamu sudah meminjamkan uang, jadi dia harus ikutin semua kata-katamu. Bisakah kamu menjamin bahwa kamu tidak akan berpikir seperti ini?

Status di antara kalian terkadang menimbulkan rasa wajib untuk membantu saat dia mengalami kesulitan. Bahkan saat kamu sendiri tidak punya sejumlah uang yang dibutuhkan. Kamu pun ikut pusing mencari pinjaman ke sana kemari untuknya. Padahal itu bukan kewajibanmu lo. Berpacaran tidak lantas membuatmu bertanggung jawab atas hidupnya, termasuk urusan finansialnya. Terutama kalau urusan finansialmu sendiri masih acak-acakan juga.

Perkara pinjam-meminjam uang ini memang sensitif. Berpotensi jadi drama dan makan hati bila tidak bisa bijak menyikapi. Apalagi kalau terbentur relasi yang tidak biasa. Menagih uang yang dipinjam teman itu sulit sekali, apalagi bila yang pinjam adalah pacar sendiri. Mau menolak pun tidak enak, takut dianggap tidak benar-benar menyayangi. Di sisi lain, kamu pun ingin membantu tapi takut perkara ini justru bisa merusak hubunganmu.

Kamu masih bisa meringankan bebannya dengan banyak cara, seperti: menawarkan diri untuk mengantar-jemputnya sementara supaya bisa lebih hemat uang transport, bergantian membayar uang kencan sehingga dia bisa lebih menyimpan uang. Ada banyak cara untuk men-support pacar, tanpa harus memberi secara langsung apa yang dia butuhkan.

Katakanlah kamu mengerti kebutuhannya yang penting sekali, dan kebetulan kamu sedang punya uang lebih. Lantas kamu pun meminjaminya. Ternyata hal ini kemudian menjadi kebiasaan. Setiap kali mengalami kesulitan finansial, dia selalu menjadikanmu tujuan pertama untuk minta bantuan. Dipikirnya, karena waktu itu kamu mau dan punya uang, jadi sekarang pun pasti bisa. Padahal ‘kan belum tentu juga.